Jauhi Fitnah Sarra: Melantik Ketua Bodoh

https://youtu.be/lG345nRlMV4

Fitnah Sarra yang kedua ialah melantik ketua yang bodoh.

Nampak macam mustahil berlaku terutama sekali umat Islam tapi ia sebenarnya berlaku di Sabah, di mana penduduk nya lebih 60% orang Islam.

Bagaimana ketua di Sabah tidak bodoh kalau berpuas hati dengan peruntukan kewangan 6% dari jumlah peruntukan Malaysia pada hal penduduk di Sabah adalah 12% penduduk Malaysia dan luas kawasan Sabah adalah 25% luas Malaysia.

Kalau Sabah tidak memerlukan peruntukan ini lain lah, tapi Sabah lah negeri yang termiskin di Malaysia dan 40% orang miskin berada di Sabah.

Kalau lah Sabah ini negeri yang tiada hasil, faham juga lah, tapi Sabah menghasilkan lebih 40% hasil petroleum Malaysia menjadikan nya terbanyak dan terbanyak juga menghasilkan kelapa sawit dan kayu balak.

Ada terjadikah perkara ini di tempat lain di mana ketua yang di pilih melalui prosess undian ada lah bodoh semacam di Sabah ini? Tiada kan. Sekurang kurang nya ketua itu membantah lah. Di Sabah tidak, gembira lagi menerima peruntukan yang sedikit ini. Kalau ketua di Sabah ini tidak di undi lain cerita lah sebab negara di mana ketua nya di angkat sebagai patung dan bukan di lantik, sememangnya tidak boleh berfikir dengan baik.

Abu Dawud 4242

Narrated Abdullah ibn Umar:

When we were sitting with the Messenger of Allah (ﷺ), he talked about periods of trial (fitnahs), mentioning many of them.

When he mentioned the one when people should stay in their houses, some asked him: Messenger of Allah, what is the trial (fitnah) of staying at home?

He replied: It will be flight and plunder. Then will come a test which is pleasant. Its murkiness is due to the fact that it is produced by a man from the people of my house, who will assert that he belongs to me, whereas he does not, for my friends are only the God-fearing. Then the people will unite under a man who will be like a hip-bone on a rib. Then there will be the little black trial which will leave none of this community without giving him a slap, and when people say that it is finished, it will be extended. During it a man will be a believer in the morning and an infidel in the evening, so that the people will be in two camps: the camp of faith which will contain no hypocrisy, and the camp of hypocrisy which will contain no faith. When that happens, expect the Antichrist (Dajjal) that day or the next.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدٍ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ، حَدَّثَنِي الْعَلاَءُ بْنُ عُتْبَةَ، عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ، قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الأَحْلاَسِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الأَحْلاَسِ قَالَ ‏ "‏ هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَىْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِيَ الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لاَ تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لاَ نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لاَ إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ ‏"‏ ‏.‏
Grade: Sahih (Al-Albani)  صحيح   (الألباني)حكم   :
Reference : Sunan Abi Dawud 4242
In-book reference : Book 37, Hadith 3
English translation : Book 36, Hadith 4230


Book 30, Number 4230:

Narrated Abdullah ibn Umar:

When we were sitting with the Apostle of Allah (peace_be_upon_him), he talked about periods of trial (fitnahs), mentioning many of them.

When he mentioned the one when people should stay in their houses, some asked him: Apostle of Allah, what is the trial (fitnah) of staying at home?

He replied: It will be flight and plunder. Then will come a test which is pleasant. Its murkiness is due to the fact that it is produced by a man from the people of my house, who will assert that he belongs to me, whereas he does not, for my friends are only the God-fearing. Then the people will unite under a man who will be like a hip-bone on a rib. Then there will be the little black trial which will leave none of this community without giving him a slap, and when people say that it is finished, it will be extended. During it a man will be a believer in the morning and an infidel in the evening, so that the people will be in two camps: the camp of faith which will contain no hypocrisy, and the camp of hypocrisy which will contain no faith. When that happens, expect the Antichrist (Dajjal) that day or the next.





TKK 100/131: Fitnah al-Sarra’ (فتنة السراء )

  

TKK 100: Fitnah al-Sarra’

(فتنة السراء )

Fitnah enjoy atau keseronokan yang bermula asalnya dari Ahlil Bayt atau Habeeb. Sampai mereka menari, menyanyi memuja Nabi saw melalui aliran dan gerakan Ahlil Bayt, membuat umat menjadi khayal, satu Indonesia bertasbih, satu Malaysia berselawat, satu Indon berzikir. Fenomena Ahlil Bayt atau Habeeb ini dinamakan fitnah as-sarra’, enjoy dan bermudah dalam agama.

Nabi saw menolak status Ahlil Bayt kepada mana-mana Ahlil Bayt yang menyesatkan manusia,

sebagaimana firman Allah:
إن ابني من أهلي)
Nuh berkata, ” sesungguhnya anak ku itu dari ahli baiitku” Hud: 45,

lalu Allah jawab:
(إنه ليس من أهلك أنه عمل غير صالح )
“Dia bukan ahlil bayt mu, kerana dia buat maksiat.” Hud 46

 

Maka samalah dengan Ahlil Bayt yang melakukan maksiat dan bid’ah, maka Nabi tidak mengaku sebagai keluarganya.

Kemuncak fitnah sarra’ ialah umat Islam akan mengangkat para pemimpin yang lemah, bodoh dan tidak ada keupayaan mengurus umat.

https://islamicreminder.org/big-problem-before-dajjal/

‘Abdullah ibn ‘Umar narrated that the Messenger of Allah sallallahu ‘alayhi wa sallam said:

“The fitnah of al-ahlas (continuous calamity) is mass desertion and war. Then, the fitnah of as-sarra (meaning ‘the rich’, when some reach people use their money to hire others to fight for them) will start from under the feet of a man who claims that he is of me (of my descendants). However, he is not of me, for my loyal friends are the ones who have taqwa. Afterwards, people will unite around a man whose reign is unstable. Then, the fitnah of ad-duhayma (it is called ‘dark and black fitnah‘ because of its enormity) (will start) and will not leave any member of this nation without severely touching him. When it is thought that its time has come to an end, it will be lengthened. Meanwhile (during this fitnah), a man will wake up as a believer and will meet the night as a disbeliever, until people divide into two camps; a camp of belief that contains no hypocrisy, and a camp of hypocrisy that contains no belief. If this happens, then await the Dajjal on that day or the next.”

Ahmad, Abu Dawud and Al-Hakim, Mishkatul-Masabih, vol. 4, no. 5403



Fitnah Ahlas, Fitnah Sarra’, dan Fitnah Duhaima Jelang Kemunculan Dajjal

Maka dari itulah, dampak fitnah hari akhir sungguh tidaklah main-main. Keburukan ini dapat memantik terjadinya perpecahan antar umat, peperangan, hingga semakin menegaskan bahwa kehidupan dengan jalan yang benar menjadi semakin asing.

Meski begitu, kembali lagi kepada hadis di atas, bahwa isyarat 3 fitnah yang disebut Nabi Muhammad dalam kalamnya merupakan fitnah kubro alias fitnah besar yang menjadi ujian paling berbahaya bagi umat ini.

Gambarannya adalah diksi “tidak menyisakan sedikitpun” yang kemudian mengarah pada kehancuran total dengan dampak yang cukup signifikan.

Untuk lebih detailnya, dalam hadis riwayat Abu Dawud (6173) dari Abdullah bin Umar ra, dijelaskan bahwa 3 fitnah besar tersebut adalah fitnah ahlas, fitnah sarra’, dan fitnah duhaima’.

1. Fitnah Ahlas


Sebagaimana penamaannya, fitnah Ahlas adalah fitnah yang muncul dan menerpa umat Islam dalam rentang waktu yang sangat lama. Fitnah ini hadir memecah-belah umat menjadi begitu banyak firqah sekaligus menimpakan kezaliman terhadap sebagian dari mereka.

Tanda-tanda fitnah Ahlas telah muncul sejak akhir masa sahabat dan berawal dari masa itu pulalah tersebar benih-benih perpecahan di kalangan umat.

Rasulullah SAW menerangkan lebih lanjut bahwa gambaran keburukan “Ahlas” yaitu seperti perilaku melarikan diri dan perang yang berimbas kepada disintegrasi umat Islam.

Adapun makna kedua dari Ahlas disandarkan kepada hadis riwayat Ahmad oleh Kurz bin Alqamah Al-Khuza’i yang berarti kain yang dihamparkan di lantai atau yang diletakkan di bawah kain penyeka panas.

Alhasil, dapat direngkuh gagasan bahwa satu-satunya agar seseorang selamat dari fitnah yang berkaitan dengan pertumpahan darah ini ialah dengan tetap tinggal di rumah dan menghindari aktivitas publik yang sedang berhawa keburukan.


2. Fitnah Sarra’

Kata “As-Sarra” diterangkan oleh Ibnu Manzhur sebagai kesenangan alias kenikmatan yang didapat manusia berupa rasa sehat dan lapang. Adapun salah satu makna lain dari kesenangan ialah “al-bathha” (kerikil) alias fitnah gurun pasir.

Berkisah tentang kesenangan, maka barangkali yang dimaksud oleh M. Ahmad Al-Mubayyadh ialah kenikmatan dan kemewahan yang dirasakan oleh segenap umat pada sebagian dari era kehidupannya. 

Kenikmatan tersebut menghadirkan ketamakan terhadap dunia sehingga umat mulai bersikap longgar terhadapnya. Lebih lanjut, kesenangan inilah yang kemudian menjadi bibit munculnya fitnah-fitnah lain yang sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan umat Islam.

Syahdan, seperti apa fitnah “gurun pasir” sebagaimana yang dituangkan oleh Ibnu Manzhur tadi?

Fitnah Sarra’ memiliki pengaruh hingga ke persendian umat Islam. Fitnah ini membawa pengaruh dari era penuh konflik politik menuju era konflik lainnya yang lebih buruk daripada sebelumnya.

Sudah tertebak, bukan? Ya, bakal ada manipulasi alias pihak tertentu yang mengaku berada di pihak ahlul bait demi mengobarkan api fitnah supaya lebih ganas lagi.

Saking buruknya fitnah Sarra, corak keburukan ini akan berlanjut kepada masalah politik dan kepemimpinan hingga ditunjuklah pemimpin dengan pemerintahan yang otoriter, zalim, serta berorientasi membasmi karakter umat Islam.

3. Fitnah Duhaima’

Hitam, gelap, dan pekat adalah deskripsi utama dari fitnah Duhaima’. Dengan demikian, fitnah Duhaima’ adalah fitnah gelap alias hitam yang paling berbahaya sebagai persiapan menjelang kemunculan Dajjal.

Dikatakan demikian karena fitnah Duhaima’ merupakan rangkaian akhir dari keburukan, dan berdasarkan sifatnya, fitnah inilah yang paling dekat dengan fitnah Dajjal ketika dilirik dari sifat-sifatnya. Adapun sifat fitnah Duhaima’ yang dimaksud yakni:

  • Fitnah yang Bersifat Umum

Fitnah ini menerpa seluruh kaum muslimin sehingga tiap-tiap dari mereka bakal merasakan panas dari apinya sebagaimana kalam Nabi SAW:

“Tidak menyisakan seorang pun dari umat ini kecuali fitnah ini menamparnya dengan sebenar-benarnya tamparan.”

  • Fitnah yang Tetap Aktual dan Terus Terjadi Berkepanjangan

Fitnah Duhaima’ terjadi dalam rentang waktu yang lama sehingga tak dapat diukur maupun dibayangkan kapan waktu berakhirnya.

Bahkan, setiap kali seseorang membayangkan bahwa fitnah ini sudah reda karena kedahsyatannya yang berkurang, tetap saja bakal muncul fitnah alias keburukan yang lebih segar, lebih kompleks, juga lebih dahsyat daripada fitnah sebelumnya. Sabda Nabi SAW:

Ketika dikatakan, “Fitnah ini sudah selesai” maka fitnah ini terus saja terjadi berkepanjangan.

  • Fitnah Akurat, Berkisah Tentang Syahwat dan Syubhat

Fitnah Duhaima’ ialah fitnah hitam dan pekat yang dikelilingi oleh setan manusia dan setan jin. Pasukan keburukan ini menggunakan semua jerat syahwat sembari menebarkan syubhat.

Sungguh mengerikan! Fitnah Duhaima’ amat berat karena bakal mendegradasi kemurnian hati serta memengaruhi mindset umat terhadap sebuah fakta di sebalik peristiwa. Ditambah lagi dengan semakin menguatnya teknologi dan media selaku penyebar informasi.

Maka darinya seirama dengan kalam Nabi Muhammad:

“Sesungguhnya sebagian dari penjelasan itu adalah sihir.”

Adalah hati yang disihir dengan segenap kalimat verbal melalui media informasi demi menghasut perasaan manusia untuk memandang kebenaran sebagai kebatilan dan melirik kebatilan sebagai kebenaran sebagaimana lanjutan kalam Nabi SAW:

“Di saat fitnah itu terjadi, seseorang memasuki waktu pagi sebagai orang yang beriman, tetapi memasuk waktu sore sebagai orang kafir”.

  • Fitnah sebagai Penyaring dan Pemisahan

Sejatinya fitnah Duhaima’ tiada akan berakhir kecuali setelah mayoritas umat disaring maupun dipisah. 

Maksudnya, akan ada sebagian dari kelompok manusia yang semakin tertelan dengan keraguan di dalam hatinya, serta sedikit dari kelompok mereka yang imannya tetap dalam keteguhan.

Alhasil, berbahagialah mereka yang teguh karena keteguhan tersebut akan semakin meningkatkan keikhlasan beribadah kepada Allah SWT. 

Pemisahan yang dimaksud adalah terpisah total antara kaum munafik dan kelompok yang beriman seutuhnya sebagaimana lanjutan kalam Nabi:

“Sampai manusia menjadi dua kelompok, kelompok iman yang tiada kemunafikan padanya dan kelompok munafik yang tiada iman padanya.”

Hadis di atas menegaskan bahwa sebelum berakhirnya fitnah Duhaima’, belum bisa dibedakan mana kelompok munafik dan mana kelompok manusia yang teguh dalam iman. Hal tersebut dikarenakan keadaan manusia yang berubah-ubah.

Sebagai fitnah jelang kedatangan Dajjal, maka fitnah Duhaima’ adalah keburukan yang paling dekat ketika disandarkan dari sifat maupun waktunya. Hal tersebut ditandai dengan penutup hadis riwayat Abu Dawud (6173):

“Apabila seperti itu keadaan kalian maka tunggulah Dajjal, pada hari itu atau esok harinya.”

Sifat krusial dari fitnah Dajjal adalah dia memiliki kemampuan yang luar biasa, pengaruh yang menggemparkan, dominasi atas seluruh belahan dunia, hingga sifat ketuhanan yang parah. Intinya, kemampuan Dajjal di zaman itu tidak tertandingi.

Pada masa itu pulalah syubhat semakin tersebar dan merajalela serta menghimpit siapa saja yang membantu mereka. Boikot akan terus terjadi baik secara ekonomi maupun bidang lainnya hingga menjadikan negara gersang, tandus, serta terus tertimpa bencana.

Nauzubillah min dzalik. Berlindung kita kepada Allah dari fitnah Dajjal. Wallahua’lam bissawab.

Taman baca:
Ensiklopedi Akhir Zaman Karya M. Ahmad Al-Mubayyadh, 2017


Comments

Popular posts from this blog

Ir. Hj. Othman Hj. Ahmad Resume

Penyelesaian Masalah Letrik dan Air di Sabah